Seminar Pengembangan Teknologi Bidang Agribisnis di Cikadu: Sebuah Inovasi Membangun Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan Berbasis Teknologi Hasil Riset

Jumat, 10 November 2017

Seminar kali ini bertujuan untuk menyosialisasikan hasil penelitian pengembangan Kawasan Cikadu yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) dan juga narasumber. Terdapat dua output yang diharapkan melalui seminar kali ini, yaitu sosialisasi potensi pengembangan Kawasan Cikadu kepada peserta seminar dan ditemukannya bentuk serta skema kerjasama dengan pihak ketiga yang cocok untuk diterapkan pada Kawasan Cikadu.

Dijelaskan bahwa selama perjalanan tahun 2007 – 2011, ada batas waktu yang tertulis pada perjanjian kerjasama yang telah dilakukan sehingga ada pengalihan kewenangan dari Kemenristekdikti ke Provinsi Jawa Barat. Proses pengalihan terjadi sejak tahun 2011 dan dikawal oleh Drs. M. Ruslan U.E.ESFA, MM sehingga sampai terbentuk BPAT (Balai Pengembangan Agro Teknopark) Cikadu. Selama keberjalanan kepengurusan balai, dirasakan bahwa banyak kesulitan dan tekanan yang dirasakan dari masyarakat. Masyarakat pada awalnya tidak merasakan keberadaan balai dapat memberikan manfaat.

          Narasumber seminar kemudian menjelaskan aset-aset Kawasan Cikadu yang memiliki prospek untuk dikembangkan, yaitu:

  • Lahan keseluruhan seluas 2100 Ha
  • 1200 Ha dipergunakan untuk penempatan penduduk yang translok
  • Lahan yang potensial untuk dikembangkan (902,82 Ha) antara lain:
    • Blok Cibarengkok di Desa Sukamanah (270 Ha) dan Desa Sukamulya (99 Ha).
    • Blok Kebun Muncang di Desa Cisaranten (315 Ha). Blok ini banyak ditanam cerai wangi yang ditanam oleh masyarakat
    • Blok Kolaberes di Desa Cikadu dan Mekarlaksana (378 Ha)

Lahan potensial yang telah disebutkan tersebut dipertahankan untuk areal perkebunan dan konservasi, namun kondisi saat ini masih menjadi lahan garapan masyarakat

          Jabar memiliki jumlah penduduk paling besar, tapi juga merupakan penduduk ke-3 paling miskin. Sebelum memulai kegiatan pembangunan yang dilakukan BP2D, Kemenristekdikti ingin menjadikan Cikadu sebagai wilayah pertanian terpadu. Tapi masyarakat memang belum merasakan manfaatnya. Setelah dikaji, masterplan pertanian terpadu yang direncanakan Kemenristekdikti masih belum terealisasi secara baik. Banyak rencana penanaman yang tidak terealisasi, dan kondisinya bahkan tanaman yang berkembang adalah tanaman-tanaman baru. Dijelaskan bahwa masyarakat lokal harus bekerjasama bersama pengurus teknopark untuk bersama-sama menghasilkan produk pertanian yang berkualitas melalui hasil riset, melakukan pengolahan produk pertanian sendiri, dan juga menyiapkan pasar hasil produksi pertanian yang dilakukan. Masyarakat harus ikut serta dalam kegiatan bisnis. Hasil kegiatan teknopark yang berhasil terbatas pada beberapa komoditas saja, contohnya adalah indigofera. 

          Tujuan akhir dari pengembangan teknopark ini adalah untuk menjadikan Kawasan Cikadu sebagai kawasan industri pertanian terbesar di Indonesia dan laboratorium alam yang mampu mewujudkan masyarakat pertanian Jabar yang adil, makmur, dan sejahtera. Tanaman yang dikembangkan dalam teknopark harus sesuai dengan analisis kesesuaian lahan dan analisis pasar, sehingga tanaman yang dikembangkan di Cikadu sesuai dengan karakteristik lahan dan menguntungkan. Visi pengembangan teknopark adalah menjadi kawasan pertanian terpadu dan berkelanjutan sebagai pendorong terwujudnya masyarakat pertanian yang sejahtera. Untuk mencapai visi ini, maka harus dilakukan beberapa misi:

  1. Membentuk usaha pertanian pertanian terintegrasi dan berkelanjutan
  2. Mengintegrasikan berbagai peluang dan potensi pengembangan usaha bidang pertanian dengan mengikutsertakan aspek pemodalan
  3. Meningkatkan skill petani
  4. Bekerjasama dengan mitra strategis untuk membangun industri pengolahan pakan yang bahan bakunya di supply oleh kawasan Koleberes Cikadu

Harus dibentuk sistem inti-plasma dalam pengembangan Kawasan Cikadu. Lembaga-lembaga yang mengisi sistem inti plasma itu antara lain

  1. Balai dan BP2D dengan fokus pada kegiatan riset dan administrasi pengelolaannya, termasuk penyediaan bahan baku
  2. Suatu lembaga baru yang bekerjasama dengan pihak swasta dalam usaha pengembangan bisnis hasil produksi pertanian hasil riset yang dilakukan
  3. Koperasi yang menjadi lembaga swadaya masyarakat

Dalam kegiatan pengembangan peternakan oleh para peternak, permasalahan yang sering muncul adalah pakan ternak yang ketersediaannya tidak konsisten. Diusulkan dibentuk Bank Pakan, dengan syarat harus ada ladang hijauan pakan. Diatur sedemikian rupa sehingga ternak bisa makan sendiri. Poin penting yang harus diperhatikan adalah jangan sampai ternak tidak makan dan makan tergantung pemberian peternak. Bank pakan ini bukan hanya diisi rumput, namun pakan lain yang bisa diberikan ternak.

Lahan indigofera eksisting seluas 2 Ha dan merupakan salah satu sumber protein ternak. Indigofera merupakan pengganti konsentrat, dan saat diberikan ke ternak dicampur dengan tanaman lain. Komposisi indigofera sebanyak sepertiga, dan sisanya adalah lima tanaman lain yang dapat melengkapi nutrisi ternak. Tanaman indigofera tahan musim kemarau, sehingga tidak perlu disimpan di gudang. Jadi, yang perlu disimpan di gudang adalah tanaman selain indigofera.

Cikadu berada diatas gunung api yang mati. Dikatakan bahwa kawasan Cikadu merupakan kawasan rawan bencana, khususnya longsor.